Can't We Just Live in the Moment?


Going to Starbucks and everyone is busy with their phone,
Bukankah tujuan utama ngopi adalah buat ngobrol?

Have you ever realise that social media has already took over every part of our life?

Suka sedih kalo liat orang yang ketemu temen lama, alih-alih salaman atau pelukan karena udah lama gak ketemu, tapi malah sibuk sama-sama pegang hape buat ngerekam "moment" pertemuan itu, yang biasanya berujung awkward karena cuma "dadah-dadah" sambil wajahnya ketutup hape soalnya temennya juga lagi nge-stories. Trus sama-sama di-upload di Instagram. Trus mereka satu circle sama aku, jadilah aku melihat kejadian yang sama tapi dari angle yang berbeda.

Big Bad Wolf ICE BSD 2018

Big Bad Wolf Book Sale, mengklaim dirinya sebagai pameran buku terbesar di seluruh dunia dengan diskon 60-80%, tahun ini diadakan di Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD, Tangerang Selatan non stop 280 jam dari tanggal 29 Maret 2018 pukul 08.00 - 9 April 2018 pukul 23.59. Big Bad Wolf (BBW) Book Sale sendiri pertama kali diadakan pada tahun 2009 di Kuala Lumpur, dan baru pertama kali diadakan di Indonesia, tepatnya di Surabaya, pada tahun 2016.

Sebagai seorang penggemar buku dan pecinta diskonan, tentu saja saya tidak melewatkan event tahunan ini. BBW Book Sale menawarkan berbagai buku impor dengan genre beragam, antara lain self-help, religion, biography & memoirs, novel, history, dsb. Tidak ketinggalan buku untuk anak-anak dari mulai activity book, picture book, buku cerita, buku mewarnai, dan masih banyak lagi jenisnya. Semua buku yang dijual di BBW Book Sale memang dipatok dengan harga miring, dengan diskon sekitar 60-80%. Untuk buku impor yang biasanya dihargai sekitar Rp.250.000,- di toko buku Periplu*s, di BBW Book Sale bisa dibandrol dengan harga Rp.60.000-Rp.85.000,- saja. What a good deal, right?


Working Mom?

Tulisan ini terinspirasi oleh kegelisahan beberapa teman kantor yang berprofesi double, yaitu sebagai ibu dan karyawan perusahaan. Kegelisahan itu tidak jauh dari anak-anaknya yang mulai mengerti dan mulai bisa protes ketika Ibunya berangkat bekerja. Ketika mereka mencoba menjelaskan pada anaknya bahwa Ibu bekerja untuk mencari uang, dan uang untuk membeli mainan, anaknya menjawab,

“Aku nggak mau mainan aku mau Ibu di rumah aja”, katanya.

Mendengar jawaban anaknya, teman kantorku merasa sedih dan serba salah, macam Raisa.
I don’t know how it feels being a working mom, because I haven’t even married yet (hahaha!) But hey, let me tell you a story about a kid who raised by a working mom.

My #100 Books Challenge 2018



I do like reading. Especially buku dengan topik seputar self-help, psikologi, sastra, biografi, atau novel dengan latar belakang kejadian real masa lalu. Back in time when I was in college, I could spend couple hours just to read books in Togamas bookstore (they have nice playlist too!). But as I grow older and move to this city, my life kinda stuck with 8-5 jobs dan disini tidak ada Togamas! *kray*

Mimpi dari Ranupani


Hello! Meet my friend from Ranupani, his name is Suhartono and I usually call him Uncle Tono.

Pertama kali banget ketemu Uncle Tono itu pas Mei 2014, saat itu untuk pertama kalinya aku nyoba naik gunung, yaitu ke Gunung Semeru. Uncle Tono sendiri saat itu sehari-harinya kerja sebagai porter dan sering ikut Om Nanang guide bule-bule yang mendaki Gunung Semeru.

Selain supel, Uncle Tono juga baik banget. Pas kami naik Semeru dulu, Uncle Tono nungguin kami di gerbang Ranupani. Dan since disana nggak ada sinyal dan kami lupa ngasih tau kami bakal turun kapan, jadilah Uncle nungguin kami di gerbang pendakian tiap hari. Di hari ketiga akhirnya kami papasan sama Uncle Tono pas lagi perjalanan pulang naik motor lewatin Ranupani. Uncle Tono neriakin kami (asli kaget banget kirain nabrak sesuatu lol) trus diajakin makan di rumahnya. Masakannya sederhana. Nasi hangat,  sambal, dan sayur gambas (javanese - I don't know what to called in Indonesian lol) tapi nikmat banget gak boong. Ditambah makannya di depan perapian di tengah dinginnya Ranupani hihi.