Sumenep, Madura.

Holiday is coming town! Yippieeeeeeee....
Akhirnya.. setelah 16 minggu ngurusin kuliah, himpunan, hati, akhirnya liburan jugaaa hoho
Sebenernya ada beberapa plan buat liburan kali ini, tp rilis yang sudah jalan saja yah, nanti kalo udah ngomongin yang belom kejadian nanti dibilang ratu wacana hiks

Jadi kemarin hari Senin, saya dan Laras, Eka, Kiki, pergi ke Sumenep. Tujuan utama nya mau ke Gili Labak, tapi apa daya cuaca lagi gak bagus, dan gak ada kapal yang mau angkut kita.. ya jadilah kami pindah ke plan B --> muter-muter Sumenep aja.

Kami berangkat dari Surabaya jam 7 pagi, ke Madura via Suramadu. Jarak Surabaya-Sumenep gak bisa dibilang deket juga. Sekitar 4-5 jam kami baru nyampe Sumenep setelah menempuh Bangkalan-Sampang-Pamekasan-Sumenep.

Sampe Sumenep kami ke rumah Fika dulu biar dikasih makan biar enak bisa taruh barang-barang, jadi kemana-mana bagasinya lebih enteng karena tasnya udah diturunin. Setelah istirahat bentar dan menimbang dan memilih mau kemana, akhirnya kami memutuskan buat ke Kapur Putih. Ini sebenernya bukan objek wisata, tapi kayanya bagus dibuat foto-foto :p sekalian juga karna sejalan sama pantainya. 

Abu-Abu Itu Milik Sabtu.


Untuk beberapa bulan yang sudah berlalu,
I have enough. I do enough.

10 Januari 2015,
Sudah sepuluh hari berlalu sejak kalender berganti, orang-orang bijak menyambutnya dengan menciptakan resolusi-resolusi baru sebagai upaya perbaikan diri. Sudah sepuluh hari berjalan di bulan Januari, nampaknya ia masih setia menyimpan banyak kejutan-kejutan manis. Bak menunggu kejutan dari orang-orang terdekat saat pergantian usia, saya tidak sabar menanti apa yang akan terjadi.

Rindu

Apalah arti memiliki,
Ketika diri kami sendiri bukanlah milik kami?

Apalah arti kehilangan,
Ketika kami sebenarnya menemukan banyak saat kehilangan,
Dan sebaliknya, kehilangan banyak pula saat menemukan?

Apalah arti cinta,
Ketika kami menangis terluka atas perasaan yang seharusnya indah?
Bagaimana mungkin, kami terduduk patah hati atas sesuatu yang seharusnya suci dan tidak menuntut apapun?

Wahai, bukanlah banyak kerinduan saat kami hendak melupakan?
Dan tidak terbilang keinginan melupakan saat kami dalam rindu?
Hingga rindu dan melupakan jaraknya setipis benang saja.

Tere Liye, dalam Rindu.


One Fine Day with Eka and Yogha

Beberapa hari yang lalu saya dan dua orang teman kuliah, Eka dan Yogha, secara tidak sengaja tiba-tiba pergi ke Tunjungan Plaza Surabaya. Dengan tujuan awal mencari kado untuk seorang teman kami yang lain, eh malah berujung dengan main sendiri seharian. Dari mulai cari kado, belanja jeans, makan di foodcourt, main di fun world sampe gempor dan berujung pada foto box dan kehujanan pas mau balik ke kampus lagi hahhaha. But we have a lot of fun! 

Eka dan Yogha adalah teman dari jaman maba yang dulu masih kumus-kumus dan ingusan, sampe sekarang Eka bertrasformasi jadi cewek cantik yang jago touch up dan Yogha yang jadi kepala departemen KWU (tapi masih tetep kumus-kumus dan ingusan). Well, mereka jadi partner kerja praktek, apa akan berujung jadi partner hidup? We'll see then.


Tanggung Jawab

Tentunya kita semua setuju bahwa semua orang di dunia ini memiliki tugas dan tanggung jawab mereka masing-masing. Entah tanggung jawab dalam hal sekolah, perkuliahan, organisasi, instansi tempat bekerja, bahkan tanggung jawab pada diri sendiri dan juga keluarga. Jadi tak heran jika sedari balita kita sudah diajarkan untuk bertanggung jawab terhadap hal-hal yang telah kita lakukan dengan harapan saat dewasa kelak kita sudah terbiasa untuk selalu mempertanggungjawabkan tugas-tugas dan kewajiban yang dibebankan di pundak kita.

Satu demi satu tanggung jawab kita terima. Entah itu tanggung jawab yang bersifat sukarela seperti contohnya menduduki bagian strategis organisasi, atau tanggung jawab yang bersifat wajib seperti halnya sekolah dan kuliah. Lelah? pasti. Tapi bukankah tanggung jawab demi tanggung jawab ini yang akan membentuk pribadi kita di masa yang akan datang?